Setelah lepas IUD akhir tahun lalu, kami berdua ( saya dan suami) dan sangat di dukung oleh mama serta mertua untuk segera menambah anggota keluarga kecil kami. 3 bulan berlalu hingga 21 maret saat suami pindah kerja ke tangerang, tamu tiap bulan teratur aja datangnya. Hingga 21 juni saat ayah cuti 2 minggu hingga tanggal 5 Juli, ternyata bulan itu saat tamu bulanan terakhir datang. Pertengahan Juli, setiap magrib kok meriang, setelah itu normal kembali. Saya cuek saja, hanya mama yang mulai godain “kayaknya Nadia mau punya adik”. Ah masa iya..pikirku, ayah kan cuti cuma 2 minggu. Tapi kok belum haid bulan ini ya..segeralah beli tespack dan 2 garis terang di tespack. “ha? hamil? alhamdulillah…”. Tanggal 19 Juli hari pertama Nadia masuk sekolah, bahagia rasanya menemani hari-hari pertamanya sekolah. Sambil nunggu Nadia pulang sekolah, seperti ibu-ibu lainnya terlibat pembicaraan seputar anak, rumah tangga, kebiasaan anak, dan lain-lain.
Salah satu yang teringat jelas, pembicaraan dengan mamanya Kika:
Saya : ” Kika beda berapa tahun bu dengan kakaknya?”
Mamanya Kika: ” Jauh bu..soalnya pernah hamil tapi janinnya ga berkembang”
Saya:” Oh ya..?”
Kamis, 22 Juli 2010
Kok ada flek ya? Seperti waktu Nadia siy seperti ini juga. Ga khawatir… Search google, flek di awal kehamilan bisa bertanda melekatnya ovum ke didinding rahim. Namun aktivitas yg padat termasuk didalamnya jemput Nadia, dan di rumah lagi ga ada asisten tanggal 23 memutuskan ke dokter langganan dan andalan saya. Ga tau kenapa kalo konsul ke SPOG yang satu ini hati jadi tenang, selalu menenangkan jiwa pokoknya kalau sudah konsul.
Dokter : “keluhannya apa bu…”
Saya : ” Test positif dokter..tapi kok ada flek ya”
Dokter: “coba kita cek..”
Selanjutnya saya di usg transV, usg bawah.
Dokter: “iya bu..ini hamil, tapi janinnya belum keliatan. Kita lihat 2 minggu lagi ya..”
Setelah itu di kasih resep, kata dokter ini 3 obat penguat bu..yang 1 nya vitamin
Saya: “harus bedrest Dok?”
Dokter:”ga bu..tapi krn bsk weekend, kalo di rumah ibu nyuci mending jalan-jalan ke mal ajah”
Saya pun senyum-senyum..ah dokter ini nyante banget jawabnya, tak tau kah dikau mamaku di rumah pasti stress kwadrat kalo saya jalan ke mall dalam kondisi seperti ini.
***********************************************************************************************
2 minggu berlalu semuanya baik-baik saja, kondisi hamil pun makin terasa, mual ngidam pengen ini itu. Obat penguat pun bekerja dengan sangat baiknya sehingga saya merasa tidak perlu ke dokter. Ramadhan tiba..rasanya ingin Ramadhan kali ini berpuasa, seperti bumil-bumil lainnya. Sms ke Om yang juga SPOG menanyakan hal ini, dibalas via sms seperti ini: ” tidak masalah nanda, asal di saat buka intake dengan makanan bergizi supaya perkembangan janin tidak terganggu”. Tanggal 24 Agustus ayah datang, langsung deh ajak ke dokter. Kalau sama suami lebih enak, doi yang banyak bertanya. Hasil masih tetap sama, janin belum berkembang, belum ada detak jantung. Pulangnya, mulai search blighted ovum..dan ternyata sangat banyak wanita yang telah mengalaminya. Tapi ada juga janin yang berkembang setelah 10 minggu. Dokter pun memberikan vitamin dan menyarankan untuk tidak berpuasa, diharapkan perkembangan janin lebih baik dalam 2 minggu ke depan.
2 minggu berlalu, flek-flek itu mulai muncul lagi. Menurut mama, saya terlalu cepat ke dokter. Waktu beliau dulu nanti usia kandungan 5 bulan baru ke dokter. Sedangkan saya, yang akhir-akhir ini rajin search info masalah kehamilan, ditambah hasil konsul yang lalu, plus my insting yang makin hari makin yakin kalau something wrong dengan kehamilan ini, haqqul yakin kalau harus ke dokter lagi. Sebelumnya demi menenangkan mamaku tersayang saya sms-an lagi dengan om dokter yang replynya menyarankan beli tablet Preabor yang setelah intip google lagi ternyata ini penguat kandungan. Namun mengingat libur lebaran, dokter tidak praktek maka tanggal 8 september 2010 itu kami ke dokter. Dapat no antrian 8, tp baru ke dokter jam 15.00 karena menunggu suami yang baru tiba dari luar kota. Di perjalanan saya bilang ke suami saya, sudah siap dengan yang terburuk. Janin tidak berkembang dan harus di keluarkan. Dan sebelumnya, pelan namun pasti, kuberi tahu mamaku yang tersayang berhubung beliau heran bin kaget ada yang seperti ini(makin hari makin aneh katanya, zaman beliau dulu kalau hamil ya hamil..ada baby dan 9 bulan kemudian melahirkan). Namun syukurlah mamaku cepat mengerti, dan sadar mungkin sudah di gariskan Allah..amiin.
Diruang praktek Dokter:
Dokter : ” gimana bu…”
Saya: “flek lagi dokter..tapi ga ngotorin CD, karena keluarnya pas pip*s aja”
Dokter: ” ah..ambeiennya kali bu…”
Dalam hati: aduuh dokter..usg please.. soalnya dokter dan suami mulai membahas dimana letaknya ambeien itu. Sambil bercanda pula..ufff.Untung setelah itu Dokter ngajak masuk ruang periksa.
Dokter :”iya ya..masih kosong ini bu..yang ada hanya penebalan jaringan”.Haid terakhir kapan ya
Saya: “Juni Dok”
Dokter: ” sudah 3 bulan..hmmm berarti darahnya memang dari sini. Liat bu..masih kosong,kalau gitu kita kuret aja supaya bersih, tapi tetap kita observasi lagi”
Saya(masih terbaring setelah usg) mengiba pada Dokter: “pakai obat peluruh saja dokter..ga usah di kuret..saya takuut (memelas)
Dokter (sambil tertegun): “harus bu..supaya bersih, ga sakit. Nanti di bius..”
Sayapun diam seribu bahasa…**%%%/
Dari hasil search google, ada SPOG yang kasih obat peluruh aja, meski biasanya pada usia kehamilan 7 minggu ada juga yang luruh sendiri tinggal di kasih obat pembersih(seperti kasus mamanya Kika). Abis itu nanti di cek kalau belum bersih baru di kuret. Kuret? Oh my God..Setelah pilih tanggal kuret, 13 september. Kata Dokter: “Nanti datang aja pagi, kita observasi lagi..isi obat dulu 3 jam setelahnya di kerja. 3 jam setelahnya boleh pulang kok..”
Saya & suami : ” oh..cepat ya dok..ga pake nginap?”
Dokter : “Ga perlu..cepet kok prosesnya” (lagi-lagi dengan santai..dan terang saja membuatku dan suami tenang) beliau pun menambahkan lagi:”ga sakit kok..di bius”
Saya: “oke dokter…terima kasih”
Kami pun pulang tanpa beban..meski terus bertanya-tanya, apa iya ya… ntar malam ah search google lageee
NOTE:
Blighted ovum adalah keadaan dimana seorang wanita merasa hamil tetapi tidak ada bayi di dalam kandungan. Seorang wanita yang mengalaminya juga merasakan gejala-gejala kehamilan seperti terlambat menstruasi, mual dan muntah pada awal kehamilan (morning sickness), payudara mengeras, serta terjadi pembesaran perut, bahkan saat dilakukan tes kehamilan baik test pack maupun laboratorium hasilnya pun positif.Pada saat konsepsi, sel telur (ovum) yang matang bertemu sperma. Namun akibat berbagai faktor maka sel telur yang telah dibuahi sperma tidak dapat berkembang sempurna, dan hanya terbentuk plasenta yang berisi cairan. Meskipun demikian plasenta tersebut tetap tertanam di dalam rahim. Plasenta menghasilkan hormon HCG (human chorionic gonadotropin) dimana hormon ini akan memberikan sinyal pada indung telur (ovarium) dan otak sebagai pemberitahuan bahwa sudah terdapat hasil konsepsi di dalam rahim. Hormon HCG yang menyebabkan munculnya gejala-gejala kehamilan seperti mual, muntah, ngidam dan menyebabkan tes kehamilan menjadi positif. Karena tes kehamilan baik test pack maupun laboratorium pada umumnya mengukur kadar hormon HCG (human chorionic gonadotropin) yang sering disebut juga sebagai hormon kehamilan.
Hingga saat ini belum ada cara untuk mendeteksi dini kehamilan blighted ovum. Seorang wanita baru dapat diindikasikan mengalami blighted ovum bila telah melakukan pemeriksaan USG transvaginal. Namun tindakan tersebut baru bisa dilakukan saat kehamilan memasuki usia 6-7 minggu. Sebab saat itu diameter kantung kehamilan sudah lebih besar dari 16 milimeter sehingga bisa terlihat lebih jelas. Dari situ juga akan tampak, adanya kantung kehamilan yang kosong dan tidak berisi janin.
Karena gejalanya yang tidak spesifik, maka biasanya blighted ovum baru ditemukan setelah akan tejadi keguguran spontan dimana muncul keluhan perdarahan. Selain blighted ovum, perut yang membesar seperti hamil, dapat disebabkan hamil anggur (mola hidatidosa), tumor rahim atau penyakit usus.
Sekitar 60% blighted ovum disebabkan kelainan kromosom dalam proses pembuahan sel telur dan sperma. Infeksi TORCH, rubella dan streptokokus, penyakit kencing manis (diabetes mellitus) yang tidak terkontrol, rendahnya kadar beta HCG serta faktor imunologis seperti adanya antibodi terhadap janin juga dapat menyebabkan blighted ovum. Risiko juga meningkat bila usia suami atau istri semakin tua karena kualitas sperma atau ovum menjadi turun.
Jika telah didiagnosis blighted ovum, maka tindakan selanjutnya adalah mengeluarkan hasil konsepsi dari rahim (kuretase). Hasil kuretase akan dianalisa untuk memastikan apa penyebab blighted ovum lalu mengatasi penyebabnya. Jika karena infeksi maka dapat diobati sehingga kejadian ini tidak berulang. Jika penyebabnya antibodi maka dapat dilakukan program imunoterapi sehingga kelak dapat hamil sungguhan.
Untuk mencegah terjadinya blighted ovum, maka dapat dilakukan beberapa tindakan pencegahan seperti pemeriksaan TORCH, imunisasi rubella pada wanita yang hendak hamil, bila menderita penyakit disembuhkan dulu, dikontrol gula darahnya, melakukan pemeriksaan kromosom terutama bila usia di atas 35 tahun, menghentikan kebiasaan merokok agar kualitas sperma/ovum baik, memeriksakan kehamilan yang rutin dan membiasakan pola hidup sehat.