-
Mengapa banyak SD yg mensyaratkan calon murid kelas 1 nya sudah bisa baca, menulis dan berhitung..? seberapa pentingkah CALISTUNG bagi anak usia dini…?. Nantikan pembahasannya Rabu Malam 22 Juni 2011 di Motivatalks SUN TV. Info lengkap jaringan SUN tv di daerah ada di www.ayahkita.blogspot.com
-
Nana Risa : Saat memilih skolah, sy memilih yg tdk diajarkan membaca, skolah yg tdk menargetkan lulusan TK mereka sdh bisa membaca. Sy melihat teman2 anak sy les membaca-les sempoa,namun tdk dgn anak sy. Sy tetap ingin dia menikmati masa bermainnya, dan brtahap menerima ilmu-bukan menjadi Anak yg diGEGAS..June 22 at 7:59am · Like · 4 people -
Komunitas Ayah Edy : Seandainya semua ibu seperti bu Nana, kita akan punya banyak orang2 sejenius Einstain di negeri ini.June 22 at 8:15am · Like · 2 people
Saat membaca comment dari Komunitas Ayah Edy jujur saya sangat terkejut, ada rasa haru dan bahagia. Saya tidak menyangka comment saya di status Facebook beliau mendapat apresiasi demikian. Sebab selama ini selalu terbersit ragu dalam diri saya, apakah yang saya lakukan ini benar? Saat para orang tua, teman-kenalan-bahkan keluarga menyekolahkan anak mereka di usia 2 tahun saya memilih untuk belum menyekolahkan putri saya. Saat teman anak-anak saya les membaca di sekolah di luar jam sekolahnya, anak saya sudah berada di rumah bermain atau bahkan sedang tidur siang. Di saat ada keluarga dari pihak suami yang membanggakan cucunya yang usianya tidak jauh berbeda dengan putri saya namun sudah bisa membaca dan karena itu akan segera didaftarkan SD tahun ajaran nanti, saya hanya bisa tersenyum. Oleh karena itu, comment Ayah Edy memberikan angin segar-memberikan harapan dan semangat bagi saya pribadi..ternyata langkah saya selama ini ada benarnya (insya Allah)
Anak Yang Di Gegas-istilah ini pertama kali saya dapatkan saat mengikuti bimbingan Orang Tua Murid. Anak Yang Di Gegas kurang lebih menggambarkan anak yang di bebani segala macam pengetahuan dan kemampuan (dan biasanya di mulai dari usia yang sangat belia). Dari salah satu blog yang isi tulisannya yang merupakan hasil bedah Buku ANAK-ANAK YANG DIGEGAS menjelaskan bahwa anak mereka di perlakukan seperti mesin robot dengan membebani segala macam pengetahuan dan kemampuan seperti; les matematika, les bahasa inggris, les piano, les IPA, kegiatan-kegiatan extra kokurikuler dan sebagainya, sehingga anak tersebut lupa akan potensi dirinya, mereka hanya menganggap OTAK (intelektual) sebagai satu-satunya alat peningkatan kemampuan dan kemapanan dirinya, suatu perlakuan yang secara tidak sadar telah mengebiri potensi yang ada dalam seorang anak manusia.
Saya tidak sepenuhnya menyalahkan fenomena diatas karena demikianlah realita saat ini, kursus membaca (bahkan ada yang mengklaim usia 3-4 tahun sudah bisa baca!!), les sempoa mulai untuk paket usia TK bahkan hingga sekolah yang menjanjikan lulusan mereka bisa membaca, saat ini bisa ditemui dimana-mana. Syarat mendaftar SD(meski belum semuanya seperti itu) yang salah satu syaratnya harus bisa CALISTUNG bahkan di test saat pendaftaran menjadikan para orang tua khawatir bila anak mereka di usia TK belum bisa membaca, sehingga semakin mendukung tumbuh menjamurnya tempat-tempat kursus CALISTUNG. Namun sebagai ibu yang meski saat ini berprofesi sebagai full-time mother namun alhamdulillah saya pernah mengenyam pandidikan hingga sarjana, dari TK hingga Perguruan Tinggi. Saya pernah merasakan begitu panjang jenjang dan lamanya waktu untuk meraih gelar Sarjana, dan karena itu menurut saya alangkah bijaksananya apabila anak kita masih diberi kesempatan untuk bisa menikmati masa kecilnya-masa bermainnya sambil menunggu hingga saatnya tiba, saat dia sudah siap menerima santapan ilmu-ilmu tersebut, perlahan namun pasti, sehingga mereka bisa tumbuh menjadi pribadi yang bahagia-matang secara emosi sehingga menjadikannya pribadi yang tangguh-serta cerdas tentunya…dan untuk putri kecilku, semoga kesabaran ini berbuah manis..amiin
