Saat memutuskan untuk menyekolahkan Nadia, saat memilih sekolah ini bukan pilihan dalam 1-2 hari, bahkan bukan hitungan bulan. Sebelumnya sempat beberapa kali saya mengajak Nadia untuk trial di beberapa sekolah bahkan saat usianya masih sangat dini. Sehingga (alhamdulillah) ada catatan perkembangan dalam setiap moment trial tersebut yang ternyata sangat membantuku dalam menentukan sekolahnya kelak, ditambah 1 faktor x yaitu mother’s feeling. Saya selalu menggunakan hal yang satu ini dalam memilih apapun yang berhubungan dengan putri kecilku.

Setelah serangkaian trial,googling via internet, ditambah sharing dengan orang-orang yang ku temui saat trial school di tambah membaca dari blog yang mengulas masalah perkembangan anak, ada beberapa point yang bisa ku jadikan dasar di antaranya: anak akan menyerap ilmu dengan baik hanya bila dia merasa nyaman/senang dengan lingkungannya, anak lebih mudah menerima lingkungan barunya bila dia merasa nyaman, dan salah satu indikator bila anak senang dengan sekolahnya adalah si anak susah di ajak pulang (saat mendengar penjelasan ini dari seorang psikolog sekaligus pendidik, ada rasa mengelitik kayaknya berlebihan deh, kok di ajak pulang ga mau? tapi setelah saya mengalaminya sendiri, saya pun sering senyum-senyum sendiri). Indikator lain dalam mencari TK untuk Nadia saat itu adalah TK yang tidak mengajarkan membaca, banyak yang mengulas hal ini menjelaskan dari berbagai sisi, dan saya termasuk orang yang (setelah banyak membaca topik ini) menjadi lebih berhati-hati. Sehingga saat pihak sekolah menjelaskan tentang hal ini bahwa mereka tidak mengajarkan membaca, tidak mewajibkan lulusan mereka bisa membaca maka saya pun makin jatuh hati pada sekolah ini. Terlebih lagi, kepala sekolah di sekolah tersebut, beliau dulu yang pertama kali mengajarku huruf hijaiyah, guru yang mendidikku saat usiaku seperti usia anakku, guru pertamaku, maka rasanya tidak ada alasan bagiku untuk tidak mendaftarkannya di sekolah ini.

Advertisement